Kebenaran vs Kepalsuan = KELUCUAN
May 16, 2008 by radhrazzahn
Begitulah dalam pandangan Soren Keirkegaard, terkadang ketika kebenaran
bertemu dengan kepalsuan hasilnya adalah kelucuan. Dalam kepalsuan yang lama
tersamar, humor benar-benar menjelma menjadi kelucuan yang amat sangat. Soren malah berkata, “Ketika muda aku
lupa tertawa. Kemudian ketka kubuka kedua mataku dan kulihat realitas… aku
mulai bisa tertawa, dan aku terus tertawa sejak itu.”
Berbeda dengan kebanyakan grup lawak yang mengemas tawa sebagai komoditas
media. Lawakan pada umumnya mengemas tawa dengan mengeksploitasi
kepalsuan-kepalsuan. Kekurangan aspek fisik manusia dianggap sebagai bahan
tertawaan, dan tawa yang diciptakan tidak banyak memuat kearifan spiritual,
tawa jenis ini lebih tepat dianggap sebagai ledekan terhadap ciptaan Tuhan,
lebih dalam lagi tawa yang dipenuhi pengingkaran terhadap ketuhanan. Dalam
bahasa Rumi, tawa jenis ini dianggap “tawa tanpa bunga”.
Jalaludin Rumi menulis,
Tawaku seperti bunga
Bukan sekadar tawa mulut
Dari tak maujud aku maujud
Dengan gembira dan penuh keriangan
Namun cinta mengajari
Cara lain untuk tertawa
Sang muallaf tertawa
Kalau beruntung
Bak rumah kerang
Aku tertawa ketika berduka
Hmm… mudah-mudahan saja saat kita tertawa, tawa kita adalah tawa menuju
Ilahi Rabbi.